Chelsea Betah di Puncak, Conte Buka-bukaan

Sukacita Conte tak terbendung saat Diego Costa menyumbang gol tunggal.


“Kompetisi tidak berakhir hari ini, tapi ini pertama kalinya kami memimpin klasemen musim ini,”

Kalimat tersebut diucapkan oleh Antonio Conte pada 20 November 2016 yang lalu ketika tim yang diasuhnya itu berhasil menaklukan Middlesbrough 1-0. Kala itu Diego Costa mencetak satu-satunya gol sekaligus berperan sebagai malaikat yang mengantar The Blues ke puncak klasemen untuk kali yang pertama pada musim ini.

Unggul tipis satu angka dari Liverpool dan Manchester City, di posisi kedua dan ketiga, saat itu Chelsea mengantongi 28 poin.

“Tentu ini tidak akan mudah, tapi kami juga harus bangga dengan kerja sama dan kesungguhan kami. Tidak ada cara lain, saya harus berani katakan kepada tim bahwa kami harus bekerja keras.”, kata mantan pelatih timnas Italia saat itu.

Diatas Angin

Kini liga sepak bola paling bergengsi di dunia ini tengah berada di pekan ke-20. Patut diacungi jempol, Conte menunjukan integritasnya sebagai seorang pemimpin, memberi teladan dan konsisten. Hal ini dibuktikan melalui 13 kemenangan beruntun yang menyebabkan singgasana Chelsea di puncak klasemen sementara tidak tergoncangkan.

Tentu ini membuat geram sejumlah klub lainnya. Pasalnya mereka sudah berdarah-darah namun belum mampu menggeser tim yang digawangi oleh Thibaut Courtois itu.

Menjelang pertandingan dini hari ini (Kamis, 5 Januari 2017 03.00 WIB), Tottenham Hotspur memiliki peluang yang cukup besar untuk menjegal Chelsea, karena mereka akan bermain di kandangnya sendiri, stadion White Hart Lane.

Mencari dan Memanfaatkan Celah

Mauricio Pochettino tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, pasalnya laga ini akan dijadikan ajang balas dendam lantaran Spurs kalah 2-1 saat bertandang ke Stamford Bridge bulan November yang lalu.

“Yang utama adalah karakter, lalu memiliki pondasi yang kuat. Tanpa kedua hal tersebut, anda tidak mungkin bisa memenangkan pertandingan sebanyak 13 kali berturut-turut!”, Pochettino angkat bicara.

Tidak Menoleh Kebelakang

Sejak kalah 3-0 di Arsenal pada bulan September, dengan sigap Conte merubah pola permainan ke formasi 3-4-3. Dengan mempercayakan sayap-belakang kepada Victor Moses dan Marcos Alonso, hingga kini Chelsea berhasil meraih 32 gol dan hanya kebobolan empat kali.

“Conte adalah pekerja keras. Ini adalah liga yang paling sulit di dunia. Ia seperti bermaraton tanpa istirahat. Dan itu menuntut energi yang sangat besar dari anda,”

“Dia selalu mulai dengan satu ide, tapi juga cerdas untuk mengubah arah. Tidak hanya itu, Conte mampu mengidentifikasi sistem yang terbaik untuk timnya dengan sangat cepat,” tambah Pochettino.

Berada ditempat tertinggi membuat Chelsea dicemburui oleh sejumlah klub lainnya. Bagaimana tidak, banyak yang frustrasi dalam pertandingan 10 hari terakhir; bos Liverpool Jurgen Klopp, bos Arsenal Arsene Wenger dan bos Manchester United Jose Mourinho.

Mourinho yang paling vokal tentang jadwal pertandingan, ia merasa Chelsea dan Tottenham telah diistimewakan dengan menjadwalkan mereka di pertengahan pekan. Mereka dibandingkan dengan klub-klub lain.

Antonio Conte (47 tahun) mulai melatih Chelsea sejak 3 Juli 2016.

“Bukan saya yang mengatur jadwal,” jawab Conte sangat sederhana.

“Saya tau, mereka marah bukan soal jadwal, tapi karena posisi kami. Jika anda berada di atas dan banyak orang yang panas hati, itu biasa,”

“Sangat penting dan perlu dicatat bahwa kami terus melalukan hal yang sama, bekerja keras, berpikir tentang diri sendiri, tidak melihat tim lain dan situasi lain,”

Ketika ditanya apa yang menjadi rahasia Conte dan timnya: “Tidak ada. Saya dan para pemain, kami hanya ingin menang untuk mengambil tiga poin.”

“Perhatikan jejak kami. Menang beruntun 13 kali merupakan pencapaian yang besar. Jenis permainan yang seperti ini pasti akan memotivasi anda. Sekarang semua tim ingin menghentikan laju kami, bukan hanya Tottenham Hotspur,” tutupnya.

‘Hitam Putih’ The Blues dan Setan Merah

Jose Mourinho saat pertama bersama Chelsea tahun 2004

Jose Mourinho saat pertama bersama Chelsea tahun 2004

Perjalanan ‘The Man Behind The Scene’

Jose Mourinho adalah pria berdarah Portugis yang dianggap oleh sejumlah pemain, pelatih, dan komentator sebagai salah satu manajer terbesar dan paling sukses di dunia.

Mourinho belajar ilmu olahraga di Universitas Tehnik Lisbon dan memiliki segudang prestasi, bahkan pada tahun 2015 ia dianugerahi gelar sebagai pelatih Portugis terbaik sepanjang masa oleh Portuguese Football Federation (FPF).

Sebut saja Inter Milan, klub tersohor asal Italia itu pernah dibawanya menuju podium Liga Champions pada tahun 2010 di Stamford Bridge.
Ya, melawan Chelsea yang pada saat itu sebagai tuan rumah, namun sebagai manajer, Mourinho mampu mengalahkannya.

Dewi Fortuna Datang dan Pergi

Kala itu, ia mengakui bahwa ‘hoki‘ sedang menghampiri dirinya di Bridge.
Sebelum membela Inter, pada tahun 2004-2007 Mourinho lebih dulu bertugas di Chelsea. Selama itu, ia memiliki rekor tak terkalahkan setiap main di kandangnya sendiri.

2010 adalah tahun kemenangannya bersama Inter Milan

2010 adalah tahun kemenangannya bersama Inter Milan

Musim berikutnya ia memperkuat Inter Milan selama 2 tahun lalu pindah ke Real Madrid selama 3 tahun sebelum akhirnya ia kembali membangun The Blues di Bridge.
April 2014 rekor tak terkalahkan yang dimilikinya berakhir saat timnya kalah 2-1 melawan Sunderland.

Catatan pertandingan saya sangat baik di Stamford Bridge, khususnya pada saat saya merumput bersama Inter. Saya tak pernah kalah bermain disana,” jelas Mourinho.

Saya rasa saya sudah tidak hoki lagi. Musim lalu saya pernah tumbang dalam beberapa pertarungan di Bridge. Didalam perjuangan, saya beberapa kali sempat gagal di Bridge,” tambahnya.

Dari Biru ke Merah

Menurut sumber berita bola di liga inggris, Mourinho yang selama ini lebih dikenal sebagai bos Chelsea karena pernah mondar-mandir di Stamford Bridge, pada 27 Mei 2016 menorehkan sejarah baru bagi persepakbolaan dunia. Bagaimana tidak, pria berusia 53 tahun ini menandatangani kontrak tiga tahun dengan salah satu klub sepakbola terbesar di dunia, Manchester United.

Mourinho merayakan trofi pertamanya bersama team Setan Merah

Mourinho merayakan gelar trofi pertamanya bersama team Setan Merah

Bulan Agustus 2016 yang lalu Mourinho memenangkan trofi pertamanya di FA Community Shield, mengalahkan Leicester City 2-1.
Pada Liga Premier, kemenangan pertamanya sebagai bos MU diraihnya pada saat menghadapi Bournemouth di bulan yang sama, unggul dengan skor 3-1.

“Saya sangat memahami ini. Ketika saya putuskan untuk pindah dan bekerja di Inggris, ada hal yang tidak bisa saya hindari; bertemu muka dengan Chelsea di Stamford Bridge.

“Secara acak, mesin telah menentukan agar saya (MU) pergi melawan mereka (Chelsea). Jadi mari kita mainkan,” jelasnya.

Full Skill Playing

Kedatangan Mourinho kembali ke Bridge kali ini menyadarkan dirinya bahwa ia akan bermain tanpa faktor x (hoki).

Dibawah asuhan Antonio Conte, saat ini Chelsea berada di urutan ke lima pada klasemen Liga Premier.
Sedangkan Setan Merah berada dua posisi dibawahnya dengan tertinggal dua poin.
Menurut Mourinho hal ini merupakan awal musim yang baik bagi Chelsea.

Balas Dendam

Mourinho harus ekstra hati-hati pada saat bertandang ke Stamford pada Minggu malam nanti. Pasalnya banyak pemain under-performed yang diperlakukan begitu buruk olehnya pada musim lalu, dan mereka akan berbaris melawan Manchester United.

Antonio Conte saat sedang melatih Chelsea bersama Moses

Antonio Conte saat sedang melatih Chelsea bersama Victor Moses.

Victor Moses salah satunya, winger Chelsea yang sempat merasakan gaya kepemimpinan Mourinho.
Ia mengaku pernah dianaktirikan olehnya, dipinjamkan kepada klub lain bahkan tidak pernah diajak bicara. Pemain asal Nigeria ini menganggap bahwa Conte jauh lebih baik daripada Mourinho.

Moses berharap agar dirinya dipasang sebagai sayap kanan The Blues pada saat Mourinho bertandang ke Bridge sebagai bos Setan Merah untuk pertama kalinya, dengan formasi baru Conte 3-4-3.

Unforgettable Mou

Meskipun demikian, Conte menyadari kejeniusan sang aktor dibalik layar ini.

Ketika anda memimpin sebuah team dan berhasil mendapatkan tiga piala (Liga Premier), dapat dipastikan anda selalu ada di hati penggemar, ” ujar pengganti Mourinho di musim panas ini.

Saya menganggap dia sebagai orang penting di klub ini. Saya menghormatinya,” tambah Conte.

Formasi kedua team dalam laga besar Minggu malam.

Formasi kedua team dalam laga besar Minggu (23/10/2016) malam.

Chelsea akan menjamu Manchester United besok malam pukul 22.00